Tingkatkan Gairah Pasutri Pakai Film Dewasa

SHUTTERSTOCK
ilustrasi

KOMPAS.com -
 Di Indonesia peredaran film khusus dewasa semakin menggila sejak kehadiran teknologi video compact disc (VCD). Pasar VCD porno paling bergairah di Indonesia ada di bilangan Glodok. Nilai bisnis film porno itu lumayan menggiurkan. Diperkirakan dari 50 keping terjual di daerah itu, 40 di antaranya adalah keping porno.

Keadaan ini kemudian mencemaskan masyarakat. Pornografi dituding merusak moral masyarakat. Belum lagi liputan media massa perihal kriminalitas yang secara dini menyebutkan menonton video porno sebagai pemicu tindak kejahatan seksual.

”Masyarakat cemas karena takut akibat informasi vulgar pornografi sampai ke anak-anak yang belum waktunya mengetahui tentang apa yang dilihat. Selain itu dikhawatirkan berdampak kepada orang dewasa yang mempunyai perilaku tak terkontrol akibat rangsangan seksual dari pornografi,” kata Prof. Dr. Alex Pangkahila, seorang ahli seksologi dari Bali.

Meskipun begitu, Alex berpendapat, ”Untuk orang dewasa sebenarnya tidak perlu terlalu dicemaskan karena justru tidak sedikit media pornografi yang berisi tuntunan seksual yang ilmiah.”

Dalam hal ini kita memang tak boleh gegabah. Segala sesuatu penyajian yang bertujuan untuk merangsang seksual dapat dikatagorikan sebagai pornografi. 

”Tetapi tidak semua pornografi ditabukan. Sebab ada beberapa tindakan terapi  tetapi bermanfaat pada beberapa tindakan misalnya untuk terapi,” tegas dokter kelahiran 1 Februari 1944 ini.

Dalam terapi seks, menurut Wendy Maltz, M.S.W., penulis buku the Sexual Healing journey: A Guide for Survivors of Sexual Abuse dan Caution: Treating Sexual Abuse Can Be Hazardous to Your Love Life, fantasi seks dan pornograsi sering dianjurkan digunakan untuk terapi pada suami istri yang bermasalah. Fantasi dan pornografi untuk tujuan terapi itu  memberikan manfaat memberi ide-ide baru, menstimulasi gairah dan minat pada seks.

Terapis seks umumnya memiliki koleksi benda-benda pornografi untuk dipinjamkan sebagai alat terapi. Diakui oleh Wendy Maltz bahwa materi pornografi kerap berisi penganiayaan seksual dan tindakan tak bertanggung jawab. Tentu yang dimaksud tak bertanggung jawab di sini termasuk hubungan seks dengan binatang, anak-anak, threesome, dan sebagainya. 

”Implikasinya adalah gambaran dan pikiran seksual itu tidak berbahaya, sepanjang Anda tidak bertindak di luar batas kewajaran,” katanya.

Editor :
Lusia Kus Anna